Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia..
Allah tahu betapa keras engkau berusaha..
Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih..
Allah sudah menghitung air matamu..
Ketika kau berpikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja..
Allah sedang menunggu bersama denganmu..
Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk tetap bersamamu..
Allah selalu berada di sisimu..
Ketika kau pikir bahwa kau telah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apalagi..
Allah punya jawabannya..
Jika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan..
Allah dapat menenangkanmu..
Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan..
Allah sedang berbisik kepadamu..
Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau ingin mengucap syukur..
Allah telah memberkatimu..
Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban..
Allah telah tersenyum padamu..
Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi..
Allah telah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu..
Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun engkau menghadap..
Allah TAHU..
Showing posts with label Nurani. Show all posts
Showing posts with label Nurani. Show all posts
Friday, January 30, 2009
Tuesday, January 27, 2009
Keajaiban Berbaik Sangka dan Keyakinan
Tugas kita adalah berbaik sangka..
Seperti kisah tentang seekor keledai tua, milik seorang petani tua, yang terperosok ke dalam sebuah sumur tua. Ah, hari sudah sore.. Sumur itu gelap sekali. Petani itu begitu menyayangi keledainya, sahabat perjuangannya selama belasan tahun menyambung hidup. Maka dicobanya segala cara untuk mengeluarkan sang keledai.
Mula-mula dengan tali. Diulurkannya ke bawah. Diteriakinya sang keledai agar menggigit tali itu. Ditariknya. Dan gagal. Lalu dibuatnya simpul laso. Diulurkannya ke bawah lagi. Diserunya sang keledai masuk ke laso. Ditariknya. Berat. Dan sang keledai berseru-seru serak. Oh itu lehernya terjerat. Gagal lagi. Dicobanya segala cara dengan tali. Dan ia gagal. Merasa tak berguna..
Lalu dicobanya mengulurkan sebatang bambu. “Jepitlah bambu ini dengan kaki-kakimu!”, teriaknya. Ditariknya lagi. Dan nihil. Segala cara bambu. Dan semuanya nihil hasil. Dicobanya pula balok-balok kayu. Dengan segala rekadaya. Dan ia makin lelah. Dan harapnya makin menguap. Merembes keluar dari jiwa bersama keringat yang mengkuyupi pakaiannya.
Matahari makin rendah di barat sana, hari kian menyenja. Dan sang petani telah mengambil keputusan bersama keputusasaannya. Ia akan menimbun sang keledai. Biarlah si keledai tua beristirahat di sana. Rehat yang tenang setelah belasan tahun pengabdian. Biarlah.. “Keledaiku tersayang.. Terimakasih atas persahabatan kita. Kini saatnya engkau beristirahat. Istirahatlah dengan tenang..” Matanya basah. Dadanya sesak. Tangisnya tertahan. Tapi dia mulai mengayunkan cangkul. Setimbun demi setimbun tanah meluncur ke dasar sumur.
Si keledai marah ketika segenggam tanah pertama mengenai punggungnya. Tapi makin lama, ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mengangkat kakinya, naik ke atas tiap timbun tanah yang jatuh di dekat kakinya. Kadangkala ia harus bergerak ke tepi, menghindari guyuran tanah dari atas. Atau menggoyang tubuhnya hebat-hebat, agar tanah yang menimpa punggung gugur ke bawah. Tapi ia terus naik. Tiap kali ada tanah jatuh, ia naik ke atasnya. Begitu terus..
Hingga senja sempurna menjadi malam. Dan sang petani yang bersedih mengira ia telah sempurna menguburkan keledai kesayangannya. Dalam lelah, dalam payah, dalam duka yang menyembilu hati ia berbaring di samping sumur. Sejenak memejamkan mata, menghayati gemuruh dalam dadanya. Dan saat itulah, sang keledai meloncati tubuhnya dengan ringkikan bahagia, keluar dari sumur tanpa kurang suatu apa.
Tugas kita adalah berbaik sangka. Bahwa yang seringkali kita anggap sebagai mushibah, seringkali bukanlah mushibah itu sendiri. Bahwa yang seringkali kita anggap sebagai penderitaan, bisa jadi adalah pertolongan Allah dari jalan yang tak kita sangka-sangka.
Tugas kita adalah berbaik sangka. Terutama padaNya.
Tugas kita adalah berbaik sangka. Juga pada manusia.
Sebagaimana bahwa semua orang yang menyakiti, menganiaya, melecehkan, dan menzhalimi diri ini adalah guru bagi kita. Guru yang sejati.
Bukan karena mereka orang-orang bijak. Tapi karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijak..
Tugas kita adalah berbaik sangka. Juga pada diri kita ini.
Sebagaimana ketika kita menarik seseorang dalam kehidupan kita, tentu tujuannya bukanlah untuk memerinci kesalahan-kesalahannya..
Seperti kisah tentang seekor keledai tua, milik seorang petani tua, yang terperosok ke dalam sebuah sumur tua. Ah, hari sudah sore.. Sumur itu gelap sekali. Petani itu begitu menyayangi keledainya, sahabat perjuangannya selama belasan tahun menyambung hidup. Maka dicobanya segala cara untuk mengeluarkan sang keledai.
Mula-mula dengan tali. Diulurkannya ke bawah. Diteriakinya sang keledai agar menggigit tali itu. Ditariknya. Dan gagal. Lalu dibuatnya simpul laso. Diulurkannya ke bawah lagi. Diserunya sang keledai masuk ke laso. Ditariknya. Berat. Dan sang keledai berseru-seru serak. Oh itu lehernya terjerat. Gagal lagi. Dicobanya segala cara dengan tali. Dan ia gagal. Merasa tak berguna..
Lalu dicobanya mengulurkan sebatang bambu. “Jepitlah bambu ini dengan kaki-kakimu!”, teriaknya. Ditariknya lagi. Dan nihil. Segala cara bambu. Dan semuanya nihil hasil. Dicobanya pula balok-balok kayu. Dengan segala rekadaya. Dan ia makin lelah. Dan harapnya makin menguap. Merembes keluar dari jiwa bersama keringat yang mengkuyupi pakaiannya.
Matahari makin rendah di barat sana, hari kian menyenja. Dan sang petani telah mengambil keputusan bersama keputusasaannya. Ia akan menimbun sang keledai. Biarlah si keledai tua beristirahat di sana. Rehat yang tenang setelah belasan tahun pengabdian. Biarlah.. “Keledaiku tersayang.. Terimakasih atas persahabatan kita. Kini saatnya engkau beristirahat. Istirahatlah dengan tenang..” Matanya basah. Dadanya sesak. Tangisnya tertahan. Tapi dia mulai mengayunkan cangkul. Setimbun demi setimbun tanah meluncur ke dasar sumur.
Si keledai marah ketika segenggam tanah pertama mengenai punggungnya. Tapi makin lama, ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mengangkat kakinya, naik ke atas tiap timbun tanah yang jatuh di dekat kakinya. Kadangkala ia harus bergerak ke tepi, menghindari guyuran tanah dari atas. Atau menggoyang tubuhnya hebat-hebat, agar tanah yang menimpa punggung gugur ke bawah. Tapi ia terus naik. Tiap kali ada tanah jatuh, ia naik ke atasnya. Begitu terus..
Hingga senja sempurna menjadi malam. Dan sang petani yang bersedih mengira ia telah sempurna menguburkan keledai kesayangannya. Dalam lelah, dalam payah, dalam duka yang menyembilu hati ia berbaring di samping sumur. Sejenak memejamkan mata, menghayati gemuruh dalam dadanya. Dan saat itulah, sang keledai meloncati tubuhnya dengan ringkikan bahagia, keluar dari sumur tanpa kurang suatu apa.
Tugas kita adalah berbaik sangka. Bahwa yang seringkali kita anggap sebagai mushibah, seringkali bukanlah mushibah itu sendiri. Bahwa yang seringkali kita anggap sebagai penderitaan, bisa jadi adalah pertolongan Allah dari jalan yang tak kita sangka-sangka.
Tugas kita adalah berbaik sangka. Terutama padaNya.
Tugas kita adalah berbaik sangka. Juga pada manusia.
Sebagaimana bahwa semua orang yang menyakiti, menganiaya, melecehkan, dan menzhalimi diri ini adalah guru bagi kita. Guru yang sejati.
Bukan karena mereka orang-orang bijak. Tapi karena kitalah yang sedang belajar untuk menjadi bijak..
Tugas kita adalah berbaik sangka. Juga pada diri kita ini.
Sebagaimana ketika kita menarik seseorang dalam kehidupan kita, tentu tujuannya bukanlah untuk memerinci kesalahan-kesalahannya..
Subscribe to:
Posts (Atom)